Sabtu, 18 April 2026
STASI SANTO ANTONIUS PADUA KUALA ASAM
1. Gambaran Umum
Stasi Santo Antonius Padua stasi yang kecil, namun ada tradisi baik setiap hari minggu ada ibadah, kegiatan menggereja cukup aktif. Memiliki kapel dengan kondisi yang baik dan terpelihara. Ada sekolah TK dan SD swasta dari gereja kristen. Gambaran umum kurang lebih sama dengan situasi di Asam Besar.
2. Aksesibilitas
a.
Aksesibilitas
Akses ke stasi ini lancar
karena selalu ada perawatan jalan. Akses ke kota Pangkalanbun lancar, ke desa/pusat
pelayanan Asam Besar, butuh waktu 5-10 menit dengan kendaraan roda dua, dan ±
30 menit dengan berjalan kaki (saat ini tidak ada lagi yang jalan kaki). Akses
ke pendidikan, urusan kantor akses ke perusahan lancar lancar saja. Jarak
tempuh 10 KM ke kota Kecamatan Manis Mata.
b. Kependudukan
Stasi kecil yang dikelilingi
sungai dan danau. Penduduk Stasi terdapat 72 jiwa dengan jumlah 22 KK.
Mayoritas penduduk bersuku Dayak. Bahasa yang digunakan sehari – hari adalah
bahasa Dayak dan Indonesia. 35 % masyarakat menganut agama Katolik, 45 %
menganut agama Kristen Protestan dan 25 % agama Islam dan sisanya Keharingan.
c. Fasilitas Layanan Umum.
Model desa berderet di ujung
jalan prefektur. Fasilitas umum sangat lengkap. Polindo, PAUD, SD, Gereja
katolik, gereja protestan, toilet umum,
lapangan sepak bola, voli.
d. Pendidikan
Di wilayah Stasi Santo
Antonius Padua Kuala Asam terdapat sebuah lembaga pendidikan anak usia dini
(PAUD) atau taman kanak-kanak swasta dengan jumlah murid 9 anak dan jumlah guru
2 orang (alumni SMA). Proses pengurusan sertifikasi PAUD sedang berlangsung.
Terdapat 1 sekolah dasar swasta (SD ARASTAMAR-milik gereja protestan) dengan
jumlah murid 25 anak. Murid-murid yang lulus dari SD ARASTAMAR melanjutkan
pendidikan di SMP Negeri Manis Mata dan SMP Asam Besar. Sebagian besar murid
yang lulus SMA melanjutkan ke SMA negeri Manis Mata. Saat ini terdapat 3 orang
yang sedang menempuh pendidikan tinggi (di Yogyakarta). Terdapat satu murid
Katolik yang lulus ke ITB tanpa tes. Jumlah yang telah menyelesaikan pendidikan
tinggi sebanyak 9 orang (INSTIPER Yogyakarta, Universitas RESPATI Yogyakarta,
Universitas Sanata Dharma)
e. Kesehatan dan Sanitasi
Ada fasilitas kesehatan, ada bangunan Polindes, ada kegiatan Posyandu dilakukan rutin setiap 1 X sebulan, meliputi Posyandu Balita, Bumil dan Lansia. Ada bidan Desa. Dan semua umat serta penduduk di wilayah stasi Santo Antonius Padua Kuala Asam sudah memiliki MCK dan air bersih sumur masing masing keluarga, tidak lagi mandi di danau.
3. Kondisi Ekonomi
a. Mata Pencaharian
Terdapat 45 % berupa lahan
pertanian yang ditanami tanaman karet. Peternakan babi dan ayam ada sekitar 5%,
dan 50% Perkebunan sawit.
b. Pendapatan per – KK
Penghasilan dari hasil pertanian 25 kantong setahun dengan metode berladang membakar. Hasil panen kelapa sawit sekitar 450.000 Kg per kali panen dan dijual kepada pengepul. Pengeluaran rata-rata per hari di atas Rp.150.000-300.000. Hampir semua warga menjadi anggota Koperasi Unit (80 rumah tangga).
4. Program – Program Bantuan
• Program bantuan Pemerintah Dalam bentuk bangunan
fisik berupa banguna Polindes, TK/PAUD
• Program bantuan pembangunan jalan dari Perusahaan
(ada, berupa perbaikan jalan dan pembangunan jalan tani)
• Program pertanian dan peternakan oleh DINAS terkait, ada penyuluh dari Pemda.
5. Kondisi Sosial dan Budaya
a. Adat dan Budaya
Tarian kebudayaan yang sering
mengiringi kedatangan tamu memiliki akarnya dalam kebiasaan tradisional, atau
berdukun masih lestari. Dengan gerakan yang serasi dan suara yang merdu yang
disertai dengan gerakan memutar, orang dapat ikut bergabung menikmati alunan
nada dan pantun sebagai pengiring nyanyian yang tenang untuk menghibur. Itu
salah satu seni adat budaya kami yang masih ada. Mirip dengan tarian Sajojo
atau Rokatenda yang sangat terkenal. “Kami ingin generasi muda kami antusias,
hanya saja tidak setiap kesempatan bisa menampilkan tarian sukacita kami yang
masih ada”, ujar seorang ibu tua. Semangat gotong royong dalam bentuk
membersihkan lingkungan, berjuang bersama, berbagi makanan untuk dinikmati
bersama-sama masih hidup. Hanya tradisi memotong pohon bersama, jarang kita
temui. “Orang-orang pulang dari kebun sawit sudah pada lelah”, ujar Ernika
ketua umat.
b. Masalah–Masalah Sosial
Isu-isu sosial seperti
kemiskinan, pengangguran, perceraian, kenakalan remaja, mempertahankan diri,
kelompok yang aneh-aneh, untuk saat ini memang tidak ditemukan, namun perubahan
ke arah itu sudah mulai terasa. Remaja yang mabuk dalam setiap kali pesta
rakyat selalu muncul, pencurian buah kelapa sawit masih marak. Menipisnya
sumber daya alam memunculkan pencurian-pencurian mulai terasa, “toh nanti
diselesaikan dengan adat” begitu seloroh orang yang kami wawancarai.
Pembicaraan seperti ini biasa kita dengar. Jalan pintas untuk mendapatkan
jumlah uang dengan menjual tanah juga terus berlangsung. Keterbatasan waktu
untuk bertemu baik di kalangan anak muda juga mulai terasa kuat karena
masing-masing sibuk bekerja di ladang kelapa sawit. Banyak yang tidak peduli
lagi dengan pentingnya kebersamaan, entah dalam keluarga maupun kelompok. Jadi
semua masalah yang terjadi di masyarakat dalam bersosialisasi yaitu adanya rasa
kurang keyakinan diri, kesombongan, ketidakmauan, enggan datang berkumpul
menjadi fenomena umum.