Sabtu, 18 April 2026
STASI SANTA THERESIA DARI AVILA, BAGAN KUSIK
1. Gambaran Umum
Bagan Kusik adalah desa yang terletak sekitar 1.5 km dari Asam besar. Jumlah penduduk di Stasi Santa Teresia Avila Bagan Kusik adalah 299 orang. Stasi ini termasuk salah satu stasi yang aktif. Jika tidak ada kunjungan pastor dari paroki pada hari Minggu, maka akan diadakan ibadat sabda yang dipimpin oleh seorang prodiakon. Stasi ini memiliki 2 orang prodiakon yang secara bergiliran melayani setiap hari Minggu dan hari-hari khusus lainnya. Gereja di stasi ini masih dalam kondisi yang sangat baik dan dapat digunakan. Selain itu, stasi ini juga memiliki sebuah rumah serbaguna untuk berbagai kegiatan.
2. Aksesibilitas
Akses jalan berjalan lancar karena dikelilingi oleh perusahaan dan pemukiman. Jarak tempuh ke Kecamatan Manis Mata sejauh 12 km. Dari pusat pelayanan stasi besar (Stasi Asam Besar) sekitar 1.5 km dengan kendaraan roda dua. Lokasi terletak di tepi jalan provinsi yang melintasi kecamatan.
3. Kependudukan
Jumlah total populasi di daerah Stasi Santa Teresa Avila Bagan Kusik adalah 94 rumah tangga dengan total penduduk 299 orang. Dari jumlah tersebut, terdapat 57 rumah tangga katolik dengan total penduduk 178 orang. Kristen Protestan ada 21 rumah tangga dengan total penduduk 66 orang dan penduduk beragama islam ada 16 rumah tangga dengan total penduduk 55 orang, sedangkan penduduk yang menganut aliran kepercayaan lokal (Kaharingan) sudah tidak ada. Mayoritas penduduk adalah suku Dayak.
4. Fasilitas Layanan Umum.
Stasi ini terletak di jalan provinsi dengan fasilitas umum yang ada seperti MCK umum dan sarana Pendidikan dasar yaitu SD, PAUD, PLN.
5. Pendidikan
Stasi ini tidak memiliki sekolah PAUD/TK. Hanya ada satu sekolah dasar negeri dengan total 37 siswa dan 3 guru dari kelas 1 sampai 6.90% siswa SD Negeri Kusik di Bagan beragama Katolik, namun masih belum memiliki guru Katolik. Padahal, ketiga guru yang aktif mengajar di SD ini semuanya beragama Islam. Anak-anak Bagan Kusik melanjutkan SMP dan SMA di tempat yang berbeda. Terdapat 11 orang bersekolah di SMP Asam Besar, 1 orang di SMP Manis Mata, SMP HMDC 01 Kebanteng (PT. Cargill) 2 orang, 1 orang di SMP di Lamandau, Kalimantan Tengah dan 1 orang di SMP di Jawa. Ada 2 anak dari SMA Yohanes Ketapang, 8 orang dari SMA Negeri Manis Mata, 2 orang dari SMK Taruna SP.10, 1 orang dari SMA Pangkalanbun Kalimantan Tengah dan 1 orang dari SMA Jawa. Saat ini, 20 anak belajar di perguruan tinggi (6 siswa belajar di Yogyakarta, 4 siswa di Pontianak, 3 siswa di Pangkalanbun, 1 siswa belajar di Lamandau dan sisanya belajar pada beberapa kampus di Jawa). Dari 20 siswa saat ini, 2 sedang belajar untuk gelar master, 12 orang bergelar sarjana (4 orang dari INSTIPER Yogyakarta, 1 orang dari IPI Malang, 1 orang dari Guna Bangsa Yogyakarta, 1 orang dari UGM, 1 orang dari Universitas RESPATI Yogyakarta, 1 orang dari Sarjanawiyata Yogyakarta dan sisanya sedang menempuh pendidikan di luar tempat. Dari 12 orang ini, 3 orang bergelar master.
6. Kesehatan
Masyarakat
PHBS atau Pola Hidup
Bersih dan Sehat, masih menjadi kenangan di kalangan tua-tua. “Sekarang kami
tidak lagi mendapat kunjungan dari suster-suster”, ungkap seorang ibu. Dari
beberapa wawancara kami, kehadiran para pelayan kesehatan menjadi kerinduan
mereka.
“Kami memiliki PUSTU
kesehatan, ada kegiatan Posyandu yang dilakukan rutin setiap 1 kali sebulan,
ada bidan desa, ada WC dan kamar mandi umum bahkan rata-rata ada di rumah, tetapi
masih ada yang memilih mandi di tempat terbuka”, ungkap seorang nenek. “Perilaku
hidup sehat ini masih sangat kurang”, cetus beberapa ibu dalam diskusi.
“Kami sadar benar bahwa
kesehatan masyarakat sangat menentukan kualitas kami sebagai ibu” ungkap
seorang ibu muda
“Kami berharap penyuluhan
kesehatan seperti yang dulu dilakukan oleh para suster dilanjutkan” usul
seorang ibu tua.
Rupanya dulu ada suster BKK, kemudian suster dari Marau yang pernah rutin datang untuk membeeri kursus kesehatan. Mereka masih mendambakan adanya penyuluhan kesehatan, bakti sosial pengobatan, bukan soal obat gratis untuk membangun kesadaran menuju masyarakat sehat.
7. Kondisi
Ekonomi
a. Mata Pencaharian
Hampir semua umat
memiliki kebun kelapa sawit, baik kebun sawit KKPA maupun kebun sawit pribadi.
Rata-rata umat katolik di stasi ini mempunyai kebun kelapa sawit lebih dari 3
kavling. Adapun kebun karet, walaupun dimiliki oleh hampir semua umat namun
beberapa tahun terakhir ini tidak banyak memberikan penghasilan karena tidak
ada pembeli sehingga kebanyakan umat saat ini lebih fokus mengelola kebun
kelapa sawit. Yang mengesankan mereka tidak mudah menjual tanah atau kavlingan
mereka. Umat yang masih menanam padi di lakau/ladang bakar ada 12 orang dengan
hasil panen 10 sampai 20 karung per-ladang setiap tahun. Selain kebun sawit,
ada 2 orang umat yang beternak sapi (masing-masin memiliki sapi 30 ekor dan 4
ekor) dan ada 1 orang yang memiliki usaha ayam potong. Ada juga 11 orang umat
yang memiliki kolam ikan namun tidak banyak menghasilkan ikan sehingga belum bisa
dijadikan mata pencaharian, hanya sebagai hasil tambahan.
Umat juga rata-rata memelihara babi, baik untuk dijual
maupun untuk komsumsi keluarga namun karena wabah penyakit maka saat ini hanya
kandang-kandang kosong yang terlihat, tidak ada lagi babinya.
b. Pendapatan per-KK
Dari hasil panen dua kali sebulan rata rata penghasilan mereka 1 ton sawit. Dipanen 2 kali dalam sebulan rata-rata paling rendah 700 kg dan bahkan ada yang lebih dari 6 ton. Hanya pengeluaran mereka besar terutama untuk konsumsi dan pendidikan. Hal yang mengembirakan adalah kesadaran untuk menabung di CU tinggi. Berdasarkan wawancara kami dengan keluarga keluarga hampir semua umat memiliki tabungan.
8. Program – Program
Bantuan
Program-progam
bantuan yang pernah mereka terima:
1. Pembuatan jalan tani dari ladang ke kampung
2. Jalan rambat beton dari aspirasi wakil rakyat
untuk ke ladang
3. Perbaikan rumah adat dari aspirasi wakil
rakyat
4. Program bantuan pembangunan jalan dari
Perusahaan kelapa sawit PT. Cargill (berupa perbaikan jalan dan pembangunan
jalan tani)
5. Program pertanian dan peternakan oleh dinas
(program IPDMIP)
6. Caritas-PSE, baru tahap kajian bersama Asam Besar.
9. Kondisi
Sosial dan Budaya
a. Adat dan Budaya
Hampir serupa dengan temuan kami di desa-desa
mayoritas penduduk Dayak, kehidupan adat desa masih tetap kental, terutama saat
pernikahan adat, perayaan tahun baru, kematian, atau ketika terjadi masalah
adat yang harus diselesaikan oleh pihak adat. Kerja sama mulai berkurang dengan
adanya pekerjaan perkebunan kelapa sawit yang membuat orang pulang pagi-sore.
Namun pada hari-hari besar masih dapat melakukan kerja gotong royong
bersama-sama. Kebiasaan berjuang dan berbagi makanan untuk kebersamaan masih sangat
terjaga.
b. Masalah–Masalah Sosial
Perubahan dari
pola pertanian tradisonal dengan mengutamakan aset alam ke tanaman monokultur
skala besar besaran membawa dampak sosial yang luar biasa. Untungnya warga
Bagan Kusik tidak banyak yang terburu menjual tanahnya, tetapi belajar mengolah
sendiri dan memiliki sawit sendiri sehingga hasilnya sekarang bisa dinikmati.
Perawatan sawit menuntut kerja lebih banyak dilahan, sehingga kesempatan
berkumpul sedikit sekali, sangat berdampak pada hubungan yang tidak lagi guyub.
Kecenderungan untuk tempur dengan mengejar target menimbulkan ekses yang
berlebihan. Situasi resah terjadi karena orang tidak segan-segan mengambil buah
sawit yang bukan miliknya. Banyak juga anak muda demi kerja yang nyaman lalu
menyabu agar selalu fit, dan terus berlansung hingga banyak yang ketagihan dan
ketergantungan. Ada istilah “yuk nyakau” artinya kerja kerja dan kerja.
“Terkesan kami tidak berkekurangan, terkesan
kesejahteraan kami meningkat, terkesan kami mampu membeli pakaian bagus. Tternyata
hubungan kekerabatan dalam keluarga, pesta-pesta yang terjadi sekadar untuk
menunjukan bahwa sekarang kami ‘sudah’ berhasil meningkatkan taraf hidup, namun
sesungguhnya ada banyak masalah”, cerita seorang tokoh muda desa yang baru saja
tamat SMK SP.10. Hal itu baik saja, tapi tanpa disadari saat ini muncul konflik
keluarga yang banyak juga berakhir dengan perlisahan bahkan perpisahan.