Sabtu, 18 April 2026

STASI KELADI, TARAHAN, DAN BAGAN KAJANG

1. Gambaran Umum

Wilayah ini bagian dusun dari Desa Ratu Elok, Manis Mata. Dusun Keladi, Tarahan, dan Bagan Kajang mayoritas penduduknya Dayak. Awalnya mereka pindahan penduduk dari sekitar Air Upas yang berburu dan mencari ikan kemudian mendirikan pondok dan bagan. Jumlah penduduk di sini sebanyak 3913 jiwa. Kontour tanah pada umumnya adalah rawa atau danau. Dulu mata pencaharian mereka adalah mencari ikan dan karet. Kini mereka total beralih ke sawit dengan masuknya perusahan sawit seperti Cargill dengan pusat di Kantor Besar Kebun (KBK), MSL. Di wilayah ini ada tiga pabrik sawit (mil satu, mil 2, mil 3).

Adanya para prodiakon di masing masing stasi sangat membantu mereka untuk aktif dalam peribadatan, terutama di bawah koordinator Bapak Vincente. Untuk Carvalo yang sehari hari bekerja sebagai guru di Perusahan Cargill. Gereja hanya terdapat di Tarahan, yaitu Gereja St. Agustinus. Area Bagan Kajang yang jumlah penduduknya padat masih bergabung ke Tarahan.


2. Akesibilitas

Tidak ada kesulitan untuk menjangkau tempat ini karena perusahan telah membuka jalan-jalan menuju kampung. Ada transportasi bus perusahan yang selalu menjemput anak anak mereka untuk ke sekolah. Akses ke Asam Besar atau ke kecamatan lancar melalui darat.


3. Fasilitas Umum

Wilayah ini memang dikelilingi oleh perusahan. Ada sedikit kemanjaan, sedikit sedikit lari ke perusahan untuk minta agar memperhatikan fasilitas, namun kesadaran untuk memlihara masih sangat minim.

Fasilitas umum yang mereka miliki antara lain: Sarana Pendidikan SD, dengan guru hanya 1 orang itu pun honorer. Puskesmas adanya di pusat Desa Ratu Elok, Manis Mata. Di sini terdapat bidan tetapi dukun anak. Gereja Katolik masih dalam kondisi baikdan juga terdapat sarana olahraga seperti lapangan bola dan voli.


4. Pendidikan

Sarana pendidikan untuk wilayah Tarahan dan Bagan Kajang hanya ada SD dengan guru honor satu orang. Untuk SMP mereka sekolah ke Kebanteng dan mendapat fasilitas jemputan. Untuk pendidikan SMA mereka melanjutkan ke Manis Mata. Beberapa anak ada yang kuliah di Jogja serta ada satu anak yang telah selesai kuliah, yaitu anak ketua umat yang kini sudah bekerja di perkebunan.

Meski mereka memiliki kebun yang cukup, namun antusias untuk pendidikan masih kurang. Dengan rajin memungut brondolan sawit saja mereka dengan mudah mendapatkan uang. Pendidikan akhir prodiakon Bagan Kajang adalah sarjana pertanian, tetapi kini memilih wiraswasta yaitu mengurus kebun sendiri sambil melayani umat.


5. Mata Pencaharian

Komoditi sawit menjadi mata pencaharian utama masyarakat. Banyak yang menjadi pemanen sawit di perusahan maupun memiliki kebun pribadi. Kegiatan ibu-ibu “membrondol” (pungut buah lepas di pokok-pokok sawit) cukup memberikan hasil yang menggairahkan untuk penghasilan keluarga, ditambah lagi dengan kemudahan mendapatkan ikan. Namun, masyarakat terkesan memiliki pola hidup yang sangat konsumtif.


6. Kesehatan Masyarakat

Seharusnya dengan makan yang cukup, ikan yang cukup bergizi menghasilkan anak anak yang sehat, namun pola hidup sehat belum menjadi kesadaran yang utama. Ada PUSTU, tapi tidak berfungsi yang mungkin karena akses ke perusahan lebih mudah dan gampang, sementara petugas penyuluh kesehatan tidak menjalankan tugas dengan baik, mereka lebih banyak ada di pusat desa Manis Mata. Apabila mereka sakit, mereka dengan mudah pergi ke perusahan. Warung yang menjual obat-obatan mudah ditermukan. Umumnya lingkungan rumah masih belum bersih karena limbah disekitar rumah menggenang di sana sini.

Mungkin amatan kami kurang menyeluruh. Perlu pendataan yang lebih lengkap untuk melihat data-data di Puskesmas atau di perusahan. Yang jelas musim panas ini banyak warga yang rawat inap tidak saja dari kampung-kampung tapi juga dari perumahan- perumahan perusahan. Sepertinya, untuk ke depan paroki harus memberikan perhatian dalam penyusunan rencana kerja operasional untuk bidang organisasi kemasyarakatan bekerja sama dengan SGGP dan delegasi karya kesehatan.


7. Masalah-Masalah Sosial

Masalah sosial hampir sama dengan temuan di desa-desa lain. Jarang dijumpai orang yang miskin melarat sampai tidak punya rumah dan tidak bisa makan. Akan tetapi perubahan dari pola kerja tradional, menunggu, santai, royong, tunggu musim, pesta, kekerabatan, ke pola kerja dengan sistem, ikut aturan organisasi, persyaratan yang lengkap dan ribet, jadwal yang ketat dan target yang terukur, menimbulkan kesenjangan dalam pola pikir, pola kebiasaan, konflik kepentingan. Akibatnya muncul masalah-masalah sosial lain seperti minder, sombong, atau tidak peduli, atau menutup diri

Contoh kecil saja, akibat tuntutan kerja tidak lagi ada kesempatan untuk berkumpul baik dengan keluarga maupun masyarakat. Hari minggu merupakan kesempatan lembur dengan gaji yang lebih besar yang menyebabkan tidak sempat lagi ibadah mingguan. Kalau bisa mengambil hasil dengan cara cepat, memindahkan sawit orang ke keranjang sendiri mengapa harus capek-capek panen.

Masalah masalah sosial seperti itu perlu proses pembinaan dengan kajian-kajian yang serius sehingga menghasilkan rencana operasinal yang baik. Itu tantangan tapi juga menjadi kesempatan bagi paroki ke depan.